Kamis, 31 Maret 2011

Puisi Korea



Sastra Korea dibagi kedalam 2 kategori:
a. Sastra Klasik
Dipengaruhi oleh:
1. Kepercayaan tradisional rakyat korea
2. Ajaran Taoisme
3. Ajaran Konfusianisme
4. Ajaran Konghuchu (terjadi pada masa Dinasti Joseon)
5. Ajaran Budhisme (merupakan yang paling berpengaruh)

b. Sastra Modern
Dipengaruhi oleh:
1. Ajaran dari barat
2. Ajaran Kristen
3. Artistik Barat
4. Pemakaian Huruf Hangeul

Kesustraan yang akan disorot dalam penjelasan ini adalah Sastra Klasik Korea. Perbedaan yang paling mencolok antara sastra klasik dan moderen adalah penggunaan aksaranya. Pada masa sastra klasik yang digunakan adalah huruf China yang menggunakan bahasa korea, sedangkan pada masa Sastra Moderen menggunakan huruf hangeul dan bahasa korea.
Ada 4 macam jenis puisi yang dapat dipaparkan pada masa itu, yakni:
a. Hyangga (Silla c.668-935)
Puisi ini berkembang pada masa Silla Bersatu yang merupakan puisi pertama di Korea. Seperti penjelasan sebelumnya puisi ini menggunakan huruf China. Terdapat 14 Hyangga di buku Samgugyusa yang terjadi pada masa Koryo. Hwarang Silla sangat berpengaruh besar dan tema-tema Hyangga biasanya mengenai Budhisme, namun ada juga tema-tema kematian. Biasaya Hyangga digunakan untuk menyindir kaum Biksu, kaum Ksatria maupun keluarga-keluarga yang berkuasa saat itu. Hyangga memiliki aturan khusus dalam penggunaannya yaitu terdiri dari garis empat, delapan atau sepuluh. Syair puisi yang terdiri dari 10 baris adalah jenis yang paling digemari, dengan bentuk 4-4-2.
Contoh Hyangga:
Karangan Wôlmyông (c. 742-765)


Requiem for the Dead Sister
On the hard road of life and death
That is near our land,
You went, afraid,
Without words.

We know not where we go
Leaves blown, scattered,
Though fallen from the same tree,
By the first winds of autumn.

Ah, I will polish the path
Until I meet you in the Pure Land.

b. Goryeo (Goryeo c.918-1392)
Berkembangnya puisi ini ditandai dengan semakin redupnya kepopuleran Hyangga. Penggunaan huruf China semakin meluas. Sebagian besar lagu-lagu Goryeo ditransmisikan secara lisan dan banyak bertahan ke periode Joseon, ketika beberapa dari mereka diturunkan menggunakan hangul. Bentuk puitis dari lagu-lagu Goryeo dikenal sebagai byeolgok. Ada dua bentuk yang berbeda: dallyeonche (단련체) dan yeonjanche (연잔체). Yang pertama adalah bentuk singkat, sedangkan yang terakhir adalah bentuk yang lebih diperpanjang. Lagu-lagu Goryeo yang ditandai dengan kurangnya bentuk nyata, dan dengan panjang peningkatan mereka. Kebanyakan langsung di alam mereka, dan mencakup aspek kehidupan umum. Tema-tema Goryeo gayo umumnya menceritakan tentang kehidupan manusia dan keindahan alam. Salah satu syair yang terkenal adalah Gwandong byeolgok (byeolgok pesisir timur) yang menceritakan keindahan pantai di laut timur Gangwon.
Contoh Goryeo:
stanzas from Song of the Gong and Chimes

Were the pearls to fall on the rock,
Were the pearls to fall on the rock,
Would the thread be broken?

If I parted from you for a thousand years,
If I parted from you for a thousand years,
Would my heart be changed?


c. Sijo (Josen c.1392-1910)
Puisi ini berkembang pesat ada masa Dinasti Joseon pada abad 16 da 17, walaupun Sijo telah ada sejak abad ke 14. Sijo merupakan jenis puisi yang paling difavoritkan dan merupakan istilah modern untuk apa yang kemudian disebut dan-ga (harfiah, "lagu pendek"). Sijo merupakan lagu yang pertaman dan terutama, rata-rata memiliki 14-16 suku kata, dengan total 44-46 baris. Ada jeda di tengah dari setiap baris, sehingga dalam bahasa Inggris mereka kadang-kadang dicetak dalam enam garis bukannya tiga. Kebanyakan penyair ikuti panduan yang sangat erat walaupun ada contoh lagi. Biasanya digunakan untuk mengekspresikan keagamaan dan filsafat, namun tradisi paralel muncul dikalangan rakyat jelata. Sijo biasanya dinyanyikan dengan iringan musik, dan tradisi ini tetap bertahan. Awalnya hanya untuk musik, namun namun setelahnya baru diisi dengan lirik.
Contoh Sijo:
Karangan Hwang Chini (c. 1506-1544)
I will break the back
of this long winter night,
folding it double,
cold beneath my spring quilt,
that I may draw out
the night, should my love return.

d. Gasa
Gasa juga muncul dan berkembang pesat di zaman Joseon, terutama pada kalangan bangsawan (Yangban). Gasa berisikan tema-tema yang umum seperti ekspresi perasaan, keindahan alam, cinta dan kehidupan manusia. Gasa merupakan sebuah bait-bait pusisi yang diiringi dengan musik.Gasa adalah bentuk ayat, meskipun isinya dapat mencakup lebih dari ekspresi sentimen individu, seperti peringatan moral. Gasa adalah bentuk sederhana dari ayat, dengan kaki kembar tiga atau empat suku kata masing-masing. Beberapa bentuk gasa diangggap bentuk esai. Tema umum pada gasa adalah alam, nilai-nilai pria, atau cinta antara pria dan wanita. Pertama kali ditemukan pada masa Dinasti Goryeo, namun sangat populer pada Dinasti Joseon. . Gasa umumnya dinyanyikan, dan populer di kalangan wanita yangban. Gasa berisikan tema-tema yang umum seperti ekspresi perasaan, keindahan alam, cinta dan kehidupan manusia. Gasa merupakan sebuah bait-bait pusisi yang diiringi dengan musik.

2 komentar:

Rifky Adrian mengatakan...

persahabatan adalah hidup
ia mengalir di darahku
bergetar di nadiku
berirama dengan tiap detak
jantung
persahabatan adalah kokoh
setegar batu karang
seperti tembok cina
meski raga tumbang
ia akan selalu tegak dalam dada
yang memendam langit
nyanyian ini untukmu kawan
untuk setiap gelas yang tak
sempat kau teguk
untuk kebahagiaan yang belum
lama kau rasakan
dari luka yang panjang
nyanyian ini untukmu kawan
untuk setiap langkah yang kau
jejakkan
pada jalan-jalan takdir yang
menggurat di telapak kaki
untuk kebersamaan kita di detik
terakhir
dan untuk semua kebisingan ini
persahabatan adalah nyanyian
ia mengaun dalam setiap desah
nafasku..

Nabilah Ratna mengatakan...

Kumpulan Puisi - Puisi MenarikKumpulan Puisi Korea beserta Artinya

Poskan Komentar